Resensi Buku

Cerita Cinta Enrico


Judul buku: Cerita Cinta Enrico
Penulis: Ayu Utami
Gambar Sampul: Ayu Utami
Tataletak sampul: Wendie Artswenda
Tataletak Isi: Wendie Artswenda
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tempat Terbit: Jakarta
Tebal buku: vii + 244 halaman; 13,5 x 20 cm
Edisi: Cetakan Pertama, Februari 2012
ISBN 13: 978-979-91-0413-7
Harga: Rp50.000,00


Cerita Cinta Enrico bercerita tentang Joakhim Prasetya “Enrico” Riksa, seorang anak yang lahir bersamaan dengan Pemberontakan PRRI serta merupakan bagian dari pasukan gerilyawan di daerah padang. Ia tumbuh besar dalam lingkungan yang bercampur aduk antara cinta, kehilangan, dan kenakalan. Enrico tumbuh menjadi seorang pemuda yang merindukan kebebasan.

Novel ini merupakan catatan perjalan hidup seorang Enrico. Dimulai dari sebuah revolusi di Sumatera Barat, dan terus berlanjut hingga ia dewasa di Pulau Jawa yang penuh jalan berliku.

Novel Cerita Cinta Enrico ini merupakan kisah yang berdasarkan pada fakta, lalu penulis membalurinya dengan sentuhan fiksi. Sehingga novel ini memiliki suatu pendekatan yang menarik. Kisah Enrico pada novel ini di dasarkan oleh kehidupan dunia nyata seorang Enrico, namun dengan detail yang tidak akurat, penulis bercerita pada akhir novel bahwasanya ia mengakui telah mengambil kebebasan kreatif untuk melengkapi cerita dari Enrico tersebut.

Enrico yang berada pada awal usia 20-an lalu melompat ke usia 40-an. Lompatan waktu yang cukup besar itu membuat saya agak merasa setangah hati. Saya paham bahwasanya mungkin saja pada rentang waktu yang hilang, tidak ada hal yang menarik yang perlu diceritakan. Namun, lompatan ini membuat perubahan yang cukup signifikan terhahap karakter tokoh dan juga nuansa cerita.

Gaya bahasa penulis cenderung repetitive. Terlalu banyak bagian yang terus diulang-ulang dalam cerita, sehingga menimbulkan kesan tidak manfaat pada cerita. Pada novel ini juga sering ditemukan kata tidak baku ‘Nafas’ dan ‘di mana’ (sebagai ganti kata sambung ‘where’).

Meski tak sesuai dugaan awal, novel ini tak buruk juga. Saya cukup menikmati keseluruhan dari novel ini. Namun sayangnya novel ini beum mampu membuat saya terpukau dengan cerita ataupun narasinya.

Bagi seseorang yang mencari bacaan tentang hubungan cinta-benci antara orang tua dan anak, serta ingin membaca novel dengan baluran filosofi agama dan feminism. Novel ini, cocok buat kamu.

Komentar